Penanganan Terkini Konstipasi atau Sulit BAB

KONSTIPASI merupakan gangguan motilitas kolon akibat terganggunya fungsi motorik dan sensorik kolon. Keluhan ini sering ditemukan dalam praktek sehari-hari dan biasanya merujuk pada kesulitan defekasi yang persisten atau rasa tidak puas.

Meskipun konstipasi seringkali hanya menjadi suatu gejala yang menganggu. Hal ini dapat menjadi berat dan mengancam nyawa.

Pada konstipasi fungsional, transit time biasanya normal, dan tidak ada kelainan evakuasi. Pasien sering mengeluh nyeri yang terkait dengan konstipasi, dan seringkali tumpang tindih dengan sindrom kolon iritabel dengan predominan konstipasi.

Pemeriksaan Fisik

  • Pada konstipasi, sangat penting untuk membedakan suatu gangguan evakuasi, yang sering juga disebut sebagai obstruksi outlet fungsional, mulai dari konstipasi akibat waktu transit lama atau penyebab lainnya.

Berikut merupakan gambaran klinis sugestif ganggauan evakuasi.

  • Perlu juga diperhatikan apakah ada tanda-tanda “alarm” seperti penurunan berat badan, perdarahan rektum, atau anemia, terutama pada pasien usia > 40 tahun, harus dilakukan sigmoidoskopi atau kolonoskopi untuk menyingkirkan penyakit struktural sepeti kanker atau striktur.

Pemeriksaan Penunjang

  • Laboratorium: darah perifer lengkap, glukosa dan elektrolit darah (terutama kalium dan kalsium ), fungsi tiroid
  • Anuskopi ( dianjurkan dilakukan secara rutin pada semua pasien dengan konstipasi untuk menemukan fisura, ulkus, hemoroid, dan keganasan
  • Foto polos abdomen harus dikerjakan pada pasien konstipasi, terutama yang terjadinya akut untuk mendeteksi adanya impaksi feses yang dapat menyebabkan sumbatan dan perforasi kolon.
  • Bila diperkirakan ada sumbatan kolon, dapat dilanjutkan dengan barium enema untuk memastikan tempat dan sifat sumbatan
  • Pemeriksaan yang intensif dikerjakan secara selektif setelah 3-6 bulan bila pengobatan konstipasi kurang berhasil dan dilakukan hanya pada pusat-pusat pengelolaan konstipasi tertentu
  • uji yang dikerjakan dapat bersifat anatomis (enema, proktosigmodidoskopi, kolonoskopi) atau fisiologis (trans time di kolon, sinedefekografi, manometri dan elektromiografi). Proktosigmoidoskopi biasanya dikerjakan pada konstipasi yang baru terjadi sebagai prosedur penapisan adanya kegansan kolon rectum.
  • Bila ada penurunan berat badan, anemia, keluarnya darah dari rektum atau adanya riwayat keluarga dengan kanker kolon perlu dikerjakan kolonoskopi
  • Trans time suatu bahan radio opak di kolon dapat diikuti dengan melakukan pemeriksaan radiologis setelah menelan bahan tersebut. Bila ditimbunan zat ini terutama ditemukan di rektum menunjukkan kegagalan fungsi ekspulsi, sedangkan bila di kolon menunjukkan kelemahan yang menyeluruh
  • Sinedefekografi adalah pemeriksaan radiologis daerah anorektal untuk menilai evakuasi feses secara tuntas, mengindentifikasi kelainan anorektal dan mengevaluasi kontraksi serta relaksasi otot rektum.
  • Uji ini memakai semacam pasta yang konsistensinya mirip feses, dimasukkan ke dalam rectum, Kemudian penderita duduk pada toilet yang diletakkan dalam pesawat sinar X. Penderita diminta mengejan untuk mengeluarkan pasta tersebut. Dinilai kelainan anorektal saat proses belangsung
  • Uji monometri dikerjakan untuk mengukur tekanan pada rektum dan salauran anus saat istirahat dan pada berbagai rangsang untuk menilai fungsi anorektal
  • Pemeriksaan elektromiografi dapat mengukur misalnya tekanan sfingter dan fungsi saraf pudendus, adakah atrofi saraf yang dibutuhkan dengan respons sfingter yang terhambat. Pada kebanyakan kasus tidak didapatkan kelainan anatomis maupun fungsional. Sehingga penyebab dari konstipasi disebut sebagai non-spesifik.

Kriteria Diagnosis

  • Dalam menegakkan diagnosis konstipasi fungsional, digunakan criteria rome III yaitu munculnya gejala dalam 3 bulan terakhir atau sudah dimulai sejak 6 bulan sebelum terdiagnosis:

Terdapat ≥ 2 gejala berikut:

  1. mengejan sedikitnya 25% dari defekasi
  2. feses keras sedikitnya 25% dari defekasi
  3. sensasi tidak puas saat evakuasi pada sedikitnya 25% dari defekasi
  4. sensasi obstruksi anorektal pada sedikitnya 25% dari defekasi
  5. diperlukan manuver manual untuk mamfasilitasi pada sedikitnya 25% dari defekasi (evakuasi jari,bantuan dasar panggul)
  6. feses lunak jarang terjadi tanpa penggunaan laksatif
  7. kriteria tidak memenuhi sindrom kolon iritabel

Nonfarmakologis

  • Apabila diketahui bahwa konsumsi obat-obatan menjadi penyebab, maka menghentikan konsmsi obat dapat menghilangkan keluhan konstipasi, namun pada kondisi medis tertentu, konsumsi obat tidak boleh dihentikan sehingga digunakan cara-cara lain untuk mengatasinya
  • Bowel training. Pasien dianjurkan untuk defekasi di pagi hari, saat kolon dalam keadaan aktif, dan 30 menit setelah makan, mengambil keuntungan dari reflex gastrokolon. Diharapkan kebiasaan ini dapat menyebabkan penderita tanggap terhadap tanda-tanda dan rangsang untuk BAB, dan tidak menahan atau menunda dorongan untuk BAB ini
  • Asupan cairan yang cukup dan diet tinggi serat. Rekomendasi asupan serat adalah 20-35 gram per hari
  • Aktivitas dan olahraga teratur

Farmakologis

  • Apabila terapi nonfarmakologis diatas tidak mampu meredakan gejala, maka dapat digunakan obat-obatan laksatif/pencahar.

KOMPLIKASI

  • Sindrom delirium akut, aritmia, ulserasi anorektal, perforasi usus, retensio urin, hidronefrosis bilateral, gagal ginjal, inkontinensia urin, inkontinensia alvi, dan volvulus daerah sigmoid akibat impaksi feses, serta prolaps rektum.

PROGNOSIS

  • Secara umum, konstipasi memiliki dampak signifikan terhadap indikator kualitas hidup (quality of life) terutama pada usia lanjut. Hampir 80% dari 300 anak yang dievaluasi pada usia 16 tahun memiliki prognosis baik.
  • Prognosis buruk setelah usia 16 tahun secara signifikan berhubungan dengan usia ketika onset gejala, lamanya jeda antara onset gejala dengan kunjungan pertama ke dokter, dan rendahnya frekuensi defekasi (sekali seminggu) saat datang berobat.
  • Risiko prognosis buruk sebanyak 16% pada tipikal pasien dengan onset keluhan saat usia 3 tahun, tertundanya berobat selama 5 tahun, frekuensi defekasi dua kali seminggu, dan 10 episode inkontinensia per minggu. Apabila penundaan antara onset dan berobat 1 tahun, risiko berkurang menjadi 7%, dan bila jeda waktu 9 tahun, risiko meningkat menjadi 31%.

REFERENSI

  • Camilleri M. Disorders of Gastrointestinal Motility.In: Goldman, Ausiello. Cecil Medicine. 23’d Edition. Philadelphia. Saunders, Elsevier. 2008
  • Camilleri M, Murray J. Diarrhea and Constipation. In: Longo DL, Fauci AS, Kasper DL, Hauser SL, Jameson JL, Loscalzo J. Harrison’s Principles of Internal Medicine. 18 1 hed. New York: McGraw-Hill; 2012.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s